Tidak Independen , MetroTV Mendapat Teguran Keras dari KPI

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengatakan perlunya PT Media Televisi Indonesia yang memakai nama udara METRO TV, guna mengedepankan independensi dan keberimbangan dalam program siaran. Wakil Ketua KPI Pusat, S Rahmat Arifin mengatakan, Metro TV jauh dari prinsip independensi dan netralitas. Karenanya Rahmat meminta terdapat perbaikan fundamental dalam redaksi untuk mengembalikan METRO TV menjalankan tugas jurnalistik ke jalur yang benar. Hal tersebut dikatakan Rahmat dalam acara Evaluasi Tahunan yang dilaksanakan KPI untuk METRO TV, di kantor KPI Pusat, (17/1).

Dalam penilaian ini, KPI memakai parameter kepatuhan atas Undang-Undang, Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran, dan Komitmen Televisi yang diciptakan menjelang perpanjangaan Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) 2016 lalu. Turunan dari parameter tersebut ialah penilai atas penegakan internal P3SPS, konsistensi bentuk siaran, prinsip independensi netralitas dan keberimbangan, pemenuhan presentase masa-masa siaran iklan Layanan Masyarakat (ILM), sanksi KPI, apresiasi KPI dan pengamalan konten lokal sebagaimana yang ditata dalam konsep sistem siaran berjaringan (SSJ).

Komisioner KPI Pusat Koordinator Bidang Pengelolaan Struktur dan Sistem Penyiaran (PS2P) Agung Suprio mengemukakan penilaian KPI atas siaran konten lokal yang ditayangkan METRO TV. Pada bulan Agustus 2018, METRO TV telah mengisi alokasi konten lokal 10 persen dari total waktu siaran masing-masing hari, termasuk juga menempatkan konten lokal itu pada waktu-waktu produktif. Namun demikian, pada METRO TV yang mempunyai 29 anak jaringan ini, KPI mengejar banyaknya re-run atau penayangan ulang konten lokal. Bahkan, ujar Agung, program yang re-run ini paling tidak sedikit* ditemukan di METRO TV dari pada stasiun TV lainnya.

Catatan lain dikatakan oleh Mayong Suryo Laksono, Komisioner KPI Pusat Bidang Pengawasan Isi Siaran. Mayong mengemukakan sanksi yang diterima METRO TV sepanjang tahun 2018, serta peringatan dari KPI. Mayong menyebut pula temuan dari KPI Pusat mengenai arah perkabaran METRO TV yang tidak seimbang, dan tidak cukup memberi ruang pada kelompok oposisi. “Untuk urusan ini, bakal ada waktunya nanti, KPI mengundang METRO TV guna mendiskusikan lebih jauh,”ujarnya. Mayong memberikan contoh ketidakberimbangan itu ialah munculnya pidato Ketua Umum Partai Nasdem dalam pemberitaan.

Senada dengan Mayong, berhubungan ketidakberimbangan dikatakan pula oleh Komisioner Bidang Pengawasan Isi Siaran lainnya, Nuning Rodiyah. Menjelang Pemilihan Umum, ada banyak pengaduan dari masyarakat bahwa tone METRO TV sedikit miring. Di samping itu, data dari KPI sendiri pun menunjukkan ketidakadilan dan ketidakberimbangan tersebut. Nuning menegaskan bahwa METRO TV mesti memberikan peluang yang sama dalam pemberitaan dan program lainnya untuk seluruh kontestan politik. “Jangan lupa juga, durasi yang sama namun tone redaksi berbeda!” ujar Nuning.

Menanggapi sekian banyak catatan dari KPI ini, Budiyanto (Sekjen Redaksi METRO TV) menjelaskan sejumlah hal berhubungan sanksi yang didapat sekitar 2018. Dirinya menyadai bahwa sanksi yang didapat METRO TV lantaran kekeliruan yang mempunyai sifat sangat esensial. Sedangkan bersangkutan pemberitaan politik, Budiyanto akan mengucapkan masukan ini pada level pimpinan. Mengenai konten lokal, menurut keterangan dari Bambang Isdiyanto selaku Manager Transmisi METRO TV, pihaknya berjuang sebaik mungkin supaya di tiap wilayah mendapatkan berita yang fresh. Dirinya mengakui bila untuk feature masih terdapat konten lokal yang mempunyai sifat re-run. “Kami akan minta studio di setiap wilayah untuk menambah produksi,”ujar Bambang.

Secara umum, daftar KPI yang lantas menjadi risalah rapat dari Evaluasi Tahunan METRO TV yaitu perlunya METRO TV menambah pemahaman terhadap P3SPS untuk menambah kualitas siaran. METRO TV pun diminta mengisi alokasi konten lokal sejumlah 10 persen serta penambahan* kualitas siaran lokal. Risalah rapat diblokir dengan komitmen METRO TV dalam mengedepankan independensi dan keberimbangan dalam masing-masing program siaran.